   Foto-foto ini diambil enam bulan yang lalu tepatnya pada bulan juni saat saya berkunjung ke Malaysia untuk mengikuti ASEAN CAMPUS JURNALIST tepatnya di salah satu daerah Johor yang tidak begitu jauh dari Kuala Lumpur Malaysia. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai ke desa itu kurang lebih 60 menit dengan menggunakan jalan darat. Parit Bugis adalah nama desa itu, Sekilas bagi kita yang ada di Indonesia nama desa itu tidak asing lagi ditelinga kita yaitu salah satu suku yang ada di daerah Sulawesi sana.
Seperti kebanyakan negara dalam menyambut tamu-tamu negaranya, acara ceremonial sepertinya tidak pernah ditinggalkan, entahlah apakah ini sebuah tradisi atau salah satu cara mempromosikan negara melalui seni dan budayanya didepan 22 delegasi dari 10 negara anggota ASEAN. Meskipun kegiatan penyambutan seperti ini hanya sebuah ceremonial, tapi saya merasakan cukup efektif untuk memperkenalkan seni dan budaya pada kami secara langsung. kesimpulan ini didapat saat saya berbincang-bincang dengan salah satu delegasi dari Vietnam dan Kamboja.
Awalnya saya penasaran tentang upacara penyambutan yang diadakan oleh penduduk Parit Bugis, karena saat itu saya berpikir akan menyaksikan sebuah seni dan budaya yang tidak ditemukan di negara saya. Menunjukan sebuah rasa ingin tahu yang cukup tinggi bersama teman-teman dari negara lain ditambah bisikan -bisikan teman-teman dari negara lain yang begitu penasaran dengan pertunjukan yang akan diperlihatkan pada kami semua.
Tapi ternyata apa yang saya pikirkan dalam perjalanan tentang pertunjukan seni dan budaya Parit Bugis tidak membuat saya terkagum-kagum seperti halnya yang terjadi pada teman-teman saya dari negara-negara lain, justru saya sedikit kecewa. Padahal saya berharap dapat menunjukan wajah seperti yang terlihat diwajah teman-teman saya yang terlihat begitu terpukau melihat pertunjukan seni Reog dan Kuda Lumping yang dibawakan dengan iringan musik yang begitu sangat khas ditelinga saya. Kontan saat itu saya hanya berpandangan dengan teman saya yang juga dari Indonesia saat pertunjukan Reog dan Kuda Lumping meliuk-liuk didepan kami, yang saya pikirkan saat itu adalah " loh kok Reog dan Kuda Lumping? kesenian ini kan sering saya lihat di Indonesia?.." pertanyaan-pertanyaan itu yang ada dikepala saya saat itu.
Keterheranan saya juga terus berlanjut sampai waktu makan siang, karena kebetulan seluruh delegasi diajak untuk mencicipi cita rasa masakan khas desa Parit Bugis yang lagi-lagi tidak asing di lidah saya. Ada ketan hitam yang disiram dengan santan ( kalau di Indonesia biasanya jadi campuran bubur kacang ijo ) , daging balado, Tape ( peuyem ) tentunya dengan nama yang berbeda. Duh saya jadi menyesal tidak dapat menuliskan nama lain makanan itu karena buku yang berisi catatan nama-nama makanan itu hilang dan sampai sekarang belum ditemukan.
Keterheranan dan rasa penasaran saya dengan banyaknya persamaan baik seni, budaya atau makanan yang ada pada akhirnya terjawab, itu juga saya dapatkan setelah saya berbincang dengan salah satu penduduk yang kebetulan berasal dari Indonesia yang sudah menetap lama di desa ini dan menjadi warga negara Malaysia. Menurut penjelasan beliau nenek Moyang Desa Parit Bugis ternyata berasal dari Bugis Makasar Sulawesi dan pulau jawa. Wah..mendengar cerita penduduk itu saya jadi menyimpulkan sendiri bahwa banyaknya persamaan baik makanan dan budaya yang ada di desa ini ternyata karena nenek moyangnya berasal dari Indonesia. Bisa jadi hal itulah kenapa banyak sekali budaya kita yang diklaim milik negara tetangga yang memang masih serumpun.
Jadi tak heran jika pemberitaan media massa akhir-akhir ini tentang hubungan Diplomatik antara Indonesia dan malaysia semakain meruncing saja, lagi-lagi yang menjadi akar permasalahanya adalah klaim-mengklaim budaya. Sebut saja seni "Reog" yang berasal dari daerah Ponorogo Jawa Timur, lagu daerah Maluku " Rasa sayange", seni sunda "Angklung", "Batik". Jika sudah begini mungkin cara yang bijak dan bermartabat adalah dengan mendaftarkan seluruh seni dan budaya kita kepada HAKI, agar tidak lagi terjadi klaim-mengklaim budaya.
 | sekilas kalau melihat dari fotonya,saya gak akan menyangka itu di malaysia... hmm,,apa yang sebaiknya di lakukan yang mengahadapi hal itu? beberapa milist disini pun rame sekali meributkan hal itu... |
 | wah, kok bisa gtu ya Mie... ntar lama-lama kekayaan budaya kita bisa diambil semua nih..
|
 | wah bagaimana ya.......nampaknya beberapa budaya kita sudah diambil sama mereka ya......, gimana nih Mita ? |
Comment deleted at the request of the author.
| |
|